Perkembangan pembayaran digital dan BNPL di e commerce

Perkembangan pembayaran digital dan BNPL di e commerce

Perkembangan pembayaran digital dan BNPL (Buy Now Pay Later) di e commerce 2025 makin kuat dan sudah jadi salah satu faktor penentu konversi di checkout. Keduanya bergerak bareng: pembayaran instan (QRIS, e‑wallet, virtual account) untuk transaksi cepat, dan BNPL untuk fleksibilitas cicilan, terutama bagi Gen Z dan milenial.

1. Lonjakan pembayaran digital di e‑commerce

e commerce
  • Pembayaran digital (QRIS, e‑wallet, paylater, kartu, transfer) tumbuh pesat dan semakin dominan dalam transaksi online maupun social commerce, karena konsumen ingin proses yang cepat, aman, dan minim friksi di tahap checkout.
  • Transaksi QRIS sendiri dilaporkan naik sekitar 175% year‑on‑year, mencerminkan pergeseran kuat dari tunai dan transfer manual ke metode scan & click yang lebih praktis di e‑commerce dan channel O2O.

2. Pertumbuhan BNPL dan pergeseran dari kartu kredit

  • Fasilitas BNPL di Indonesia tumbuh lebih dari 24% YoY dengan nilai portofolio kredit sekitar Rp35 triliun menjelang 2025, dan diproyeksikan masih bisa naik mendekati 30% sampai akhir tahun.
  • Pengguna BNPL sudah menembus puluhan juta (sekitar 48 juta pada akhir 2024) dan pertumbuhannya jauh melampaui kartu kredit, sehingga paylater menjadi “kartu kredit versi digital” bagi generasi muda.

3. Peran BNPL dalam e‑commerce

  • Sekitar sepertiga penggunaan BNPL diarahkan ke belanja e‑commerce (±33%), sisanya ke tiket/travel dan transaksi lain termasuk pembayaran via QRIS, menunjukkan bahwa paylater sudah “menempel” ke berbagai use case, bukan hanya belanja barang.
  • Studi juga menunjukkan bahwa integrasi BNPL di e‑commerce dapat menaikkan ukuran keranjang belanja (basket size) hingga 30%+ dan mendatangkan lebih banyak pelanggan baru, sebagaimana dialami pemain fesyen seperti Zalora di kawasan lain ketika mengaktifkan paylater.

4. Mengapa BNPL dan pembayaran digital disukai

  • Faktor utama: fleksibilitas, UI/UX yang simpel di aplikasi, dan integrasi langsung dengan merchant/marketplace, sehingga pengguna bisa checkout tanpa ribet mendaftar kartu kredit atau mengisi form panjang.
  • Di sisi merchant, integrasi multi‑payment (QRIS, e‑wallet, kartu, BNPL) dalam satu flow checkout terbukti meningkatkan completion rate karena memotong hambatan “metode bayar tidak cocok dengan preferensi pelanggan”.

5. Risiko dan arah regulasi

  • BNPL dipandang sebagai “pedang bermata dua”: mendorong ekonomi digital dan penjualan e‑commerce, tetapi juga berpotensi menciptakan bubble kredit dan masalah over‑indebtedness jika tidak diatur hati‑hati.
  • Karena itu, regulator mulai memperketat aturan: transparansi biaya dan bunga, penilaian risiko yang lebih baik, dan pengawasan NPL yang walaupun tren‑nya menurun, tetap jadi perhatian agar pertumbuhan paylater tetap sehat.

6. Implikasi praktis untuk pelaku e‑commerce

  • Wajib menyediakan opsi pembayaran beragam (multi‑payment), termasuk QRIS dan satu atau beberapa BNPL populer, supaya tidak kehilangan pelanggan di langkah terakhir checkout.
  • Perlu mengelola risiko secara bijak: tawarkan paylater secara selektif, gunakan limit dan verifikasi yang baik, dan kombinasikan dengan edukasi finansial agar pelanggan tidak terjebak cicilan yang tidak sehat. jetsadabetth

Jika Anda menjelaskan kategori produk (misalnya fashion, gadget, tiket, atau F&B), bisa dibuatkan rekomendasi lebih spesifik: kombinasi metode bayar mana yang paling efektif untuk naikin konversi dan AOV di segmen tersebut. luck365

Exit mobile version